Sunday, May 13, 2012

Mengeluhkan Pungutan Pesta Perpisahan

Sejumlah orang tua siswa di SMA Negeri 2 Bulukumpa mengeluhkan pungutan untuk pesta perpisahan sebesar Rp150.000 per siswa. Selain uang, para siswa juga diwajibkan menyerahkan satu ekor ayam. Irfan Salassa, wali murid SMAN 2 Bulukumba mengatakan, biaya perpisahan yang dibebankan kepada setiap siswa terkesan dipaksakan karena para siswa diwajibkan membayar.

Karena itu, Irfan bersama orang tua siswa lainnya berencana melaporkan pungutan ini ke Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bulukumba. ”Biaya perpisahan ini terlalu besar.Apalagi, siswa hanya perpisahan didalam sekolah sendiri sehingga biaya yang digunakan tidak terlalu besar sebenarnya,” kata Irfan Salassa kepada media kemarin.

Dia mengungkapkan, seharusnya, pihak sekolah tak mematok biaya sebesar itu, tapi tergantung kemampuan orang tua siswa. ”Kami berharap Kepala Disdikpora Bulukumba segera memberi teguran kepada kepala sekolah dan guru di SMAN 2 ini,”ujar dia. Selain siswa kelas 3 yang telah menyelesaikan pendidikan di SMA Negeri 2 Bulukumpa, lanjut Irfan, seluruh siswa kelas 2 juga diwajibkan membayar uang perpisahan sebesar Rp25.000 per siswa.

Padahal, siswa kelas 2 belum masuk dalam perpisahan. ”Saya khawatir ini hanya akal-akalan para guru di sekolah ini. Apalagi, jumlah siswa di sekolah ini sebanyak 180 orang,”kata Irfan. Menurut dia,para orang tua masih sanggup dan memaklumi jika besaran uang perpisahan hanya Rp50.000.”Secara keseluruhan biaya perpisahan mencapai Rp200.000, karena ada lagi ayam satu ekor yang harus dibawa setiap siswa,” ungkap dia.

Kepala SMA Negeri 2 Bulukumba Muhammad Alwi mengungkapkan, pungutan biaya perpisahan itu dikelola pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (Osis),sehingga guru dan kepala sekolah sama sekali tidak mengetahui hal tersebut. ”Kami tidak tahu berapa yang dipungut. Sebab, itu adalah urusan Osis.Sekolah hanya mengarahkan agar pelaksanaan perpisahan berjalan sukses. Besaran dana yang dipungut kalau tidak salah hanya Rp100.000,” ungkap Alwi kemarin.

Dia mengatakan, tuduhan orang tua siswa bahwa guru terlibat dalam penetapan besaran pungutan biaya perpisahan itu, tidak benar. “Kami berharap orang tua siswa sebaiknya bertanya langsung kepada kami jika keberatan dengan besaran pungutan tersebut agar bisa di-carikan jalan keluarnya,”ujar dia.

Sementara itu, anggota Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bulukumba Muhammad Bakti mengemukakan, sumbangan perpisahan ini seharusnya tidak ditentukan nilainya, tapi tergantung kesiapan dan kemampuan masing-masing orang tua siswa. Sumbangan itu sifatnya tergantung berapa kesiapan dan kemampuan.Jika besarannya ditentukan, itu bukan sumbangan, melainkan pemaksaan namanya,”ujar Bakti.